KONTRA KEBIJAKAN PLASTIK BERBAYAR

BAB I

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

PENDAHULUAN

 

1.1  
Latar Belakang

Pada tahun 1869, plastik
sintetis pertama dibuat dari selulosa, yang merupakan bahan alami yang berasal
dari tumbuh-tumbuhan. Plastik sintetis pertama yang diakui secara komersial
disebut seluloid. Plastik ini digunakan sebagai bahan alat rumah tangga. Plastik dapat dibuat dari beberapa sumber contohnya minyak
bumi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(KLHK) menilai persoalan sampah sudah meresahkan. Indonesia bahkan masuk dalam
peringkat kedua di dunia sebagai penghasil sampah plastik.  Lebih dari satu juta kantong plastik digunakan
setiap menitnya, dan 50 persen dari kantong plastik tersebut dipakai hanya
sekali lalu langsung dibuang. Dari angka tersebut, menurut Tuti Hendrawati
Mintarsih (Dirjen Pengelolan Sampah, Limbah, dan B3 KLHK), hanya lima persen
yang benar-benar di daur ulang. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(KLHK) segera menyiapkan kebijakan kantong plastik berbayar. Kebijakan kantong
plastik berbayar ditujukan untuk mengurangi jumlah sampah plastik. Namun
efektivitasnya diragukan.

1.2 
Tujuan

·        
Mengetahui
apakah kebijakan kantong plastik berbayar itu efektif

1.3 
Pertanyaan

·        
Apakah
kebijakan kantong plastik berbayar itu efektif?

 

BAB II

ISI

Indonesia adalah negara
berkembang. Indonesia adalah negara berpenduduk
terpadat nomor empat di dunia, dengan
jumlah total populasi sekitar 260 juta penduduk,. Jumlah penduduk yang banyak
pasti sampah yang dihasilkan pun banyak. Sampah yang terus menerus bertambah
dan menumpuk menjadi masalah yang serius. Kementrian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan (KLHK) membuat kebijakan yaitu kantung plasti berbayar. Kebijakan kantong
plastik berbayar ditujukan untuk mengurangi jumlah sampah plastik. Namun ada
pertanyaan apakah kebijakan tersebut efektif?

Salah satu solusi yang digunakan oleh
pelaku bisnis pasar modern yaitu mengganti kantung plastic dengan kardus bekas.
Ketika plastik dikurangi penggunaannya, bahan lain seperti kertas atau kardus
malah diperbanyak. Padahal, bahan baku pembuat material tersebut adalah kayu
atau pohon. Secara tidak langsung kebijakan ini selain menekan penggunaan
plastik, justru malah mematikan banyak pohon (Furwita,2016).
pembebanan biaya kantong plastik yang hanya ditujukan kepada konsumen Dengan
kata lain, kantong plastik adalah kewajiban si pemilik toko. Jika ditelaah,
dengan membayar ekstra untuk sebuah kantong plastik malah memberikan peluang
atau lahan baru bagi si pemilik usaha untuk mencari keuntungan(Sudrajat,2016).
Seharusnya, langkah tepat yang diambil adalah perusahaan harus menyediakan
kantong berbahan lain untuk digunakan konsumen. Dengan begitu ada alternatif
selain plastik dan ini tentu saja bisa menekan angka penggunaan plastik. Sampah
kantung plastic yang di harapkan akan berkurang tertanya hanya menambah masalah
baru dan hanya menguntungkan pihak produsen, dan menimbulkan masalah baru.
Pemberlakuan tarif Rp.200,00 untuk selembar kantung plastik orang tidak akan
peduli dan tetap membeli kantung plastic, apalagi kebijakan ini diterapkan di
pusat perbelanjaan atau ritel modern yang notabene pembelinya adalah
orang-orang menengah ke atas(Harjono,2016).
Bila sampah terus menurus bertambah dan bertumpuk, akan menyebabkan berbagai
masalah seperti banjir, pencemaran air, pencemaran udara, dan munculnya
berbagai penyakit. Banyak orang berfikir dengan adanya kebijakan kantung
plastic berbayar akan menekan penggunaan kantung plastic, tapi pada
kenyataannya tidak.BAB III

PENUTUP

3.1  Simpulan

Munculnya kebijakan kantung plastik
berbayar tidak efektif untuk menekan penggunaan kantung plastik. Kebijakan
tersebut ternyata memiliki berbagai kekurangan yang menyebabkan berbagai
masalah, sehingga perlu dilakukan revisi terhadap kebijakan tersebut.

x

Hi!
I'm Eleanor!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out